7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan
Bagian Ketiga
Nurwidayati1
Semakin kita mempelajari lebih jauh tentang 7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan ini, semakin kita dibuat kagum dan terpesona dengan pemahaman dan pemikiran beliau. Beliau benar-benar meletakkan pondasi yang kokoh bagi murid-muridnya, dan tentu saja itu pun harus menjadi pemahaman yang mendasar bagi warga persyarikatan Muhammadiyah. Jadi, langsung saja, mari kita lanjutkan pada pelajaran yang ketiga.
“Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik itu dari sudut keyakinan atau i’tiqad, perasaan, kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.”
Manusia, sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan, telah mendapatkan banyak pengajaran pemahaman dan tuntunan dari orang tua, guru, dan dari orang-orang di sekitarnya. Juga telah mendapatkan masukan-masukan melalui proses pembelajaran yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, hasil dari olah rasa dan olah pikirnya. Hal ini melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak mudah untuk diubah, dan akhirnya menjadi sebuah keyakinan. Bahwa apa yang telah menjadi kebiasaannya adalah benar, dan bila ada hal yang berbeda dengan keyakinannya maka hal itu dianggap salah. Sebagaimana disebutkan dalam QS Lukman 21 : “Bahkan kami menganut apa-apa yang tidak kami jumpai (kami terima) dari orang-orang tua kami.”
Syeh Muhammad Abduh mengatakan : “Kebanyakan manusia mula-mula sudah mempunyai pendirian. Setelah itu baru mencari dalil dan tidak mau mencari dalil selain yang sudah cocok dengan keyakinannya dan jarang sekali mencari dalil untuk dipakai dan diyakinkan.”
KHA Dahlan menyatakan : “Orang yang mencari barang yang hak atau kebenaran itu perumpaannya demikian : Seumpama ada pertemuan antara orang Islam dan orang Kristen, yang beragama Islam membawa Kitab Suci Al Qur’an dan yang beragaman Kristen membawa Kitab Bybel (Perjanjian Lama dan Baru). Kemudian kedua kitab suci itu diletakkan di atas meja. Kemudian kedua orang tadi mengosongkan hatinya sebagaimana asal manusia tidak berkeyakinan apapun. Seterusnya bersama-sama mencari kebenaran, mencari tanda bukti yang menunjukkan kebenaran. Lagi pula pembicaraannya dengan baik-baik, tidak ada kata kalah dan menang. Begitu seterusnya. Demikianlah kalau memang semua itu membutuhkan kebenaran. Akan tetapi sebagian besar dari manusia hanya menurut anggapan-anggapan saja, diputuskan sendiri. Mana kebiasaan yang dimilikinya dianggap benar dan menolak mentah-mentah terhadap lainnya yng bertentangan dengan miliknya.”
“Maka berilah kabar gembira kepada hambaku yang (mereka itu) mau mendengarkan ucapan, kemudian mereka itu menganut yg lebih baik (benar). Orang-orang yang demikian ialah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Dan orang-orang itulah yang mempunyai hati (akal) yang sempurna.” (Az-Zumar 17-18)
Manusia perlu mendengarkan segala fatwa, ucapan, pikiran dari orang lain, untuk selanjutnya disaring, dipikirkan secara mendalam, ditimbang, ditelaah dan dikaji, dan dipilih mana yang benar mana yang salah. Manusia juga hendaknya selalu berdoa, sebagaimana Rasulullah SAW berdoa demikian : “Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami akan barang yang haq sehingga kami dapat benar-benar mengetahui kebenarananya. Dan kami mengharap karunia-Mu supaya kami dapat mengikuti kebenaran itu. Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami akan barang yang bathil (salah), sehingga kami dapat benar-benar mengetahui kebathilannya. Dan kami mengharap karunia-Mu supaya kami dapat menjauhinya.”
Manusia adakalanya juga hanya mau menerima fatwa dari orang yang dianggap guru besar, lalu taqlid, menurut tanpa mengetahui dalil, dan tergesa-gesa menolak fatwa pihak lain. Lebih-lebih kalau pihak lain itu dianggap musuh. Sayyidina Ali mengatakan : “Pikirkanlah apa yang diucapkan, jangan melihat kepada orang yang mengucapkan. Kenalilah kebenaran itu dengan pengetahuan yang benar, jangan dengan memandang orangnya.”
Demikianlah pelajaran ketiga dari KHA Dahlan. Ini membuka wawasan kita bahwa sesungguhnya diperlukan keluasan hati dan pikiran untuk bisa menerima fatwa, ucapan, pikiran dari orang lain, tidak semata-mata menganggap apa yang menjadi kebiasaannya adalah benar. Hal ini juga menuntut kita untuk senantiasa selalu belajar dan mengkaji, memperluas pemahaman dan pengetahuan kita, supaya apa yang kita yakini dan lakukan selama ini adalah sesuatu yang benar.
1 PLP Lab. Biologi Fakuktas Sains dan Teknologi Terapan UAD