7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan
Bagian kedua
Nurwidayati1
Setelah menyimak dan memahami ajaran pertama dalam 7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan tentang kehidupan dunia yang hanya sekali, maka kita lanjutkan dengan pelajaran kedua yang tak kalah mendalam dari pelajaran pertama. Apa pelajaran kedua itu?
“Kebanyakan diantara para manusia berwatak angkuh dan takabbur, mereka mengambil Keputusan sendiri-sendiri.”
Manusia, dengan golongannya masing-masing selalu menganggap dirinya dan juga kelompoknya adalah benar. Seperti halnya golongan Yahudi dan Nasrani, mereka menganggap bahwa hanya golongan mereka saja yang akan selamat, sedang yang lain akan sengsara. Hanya golongan merekalah yang akan masuk surga sementara yang lain tidak.
KHA Dahlan merasa heran, mengapa para pemimpin agama dan golongan-golongan itu selalu beranggapan bahwa mengambil keputusan-keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan antar mereka, tidak mau bertukar pikiran membahas mana yang benar dan mana yang salah. Hanya berdasar anggapan sendiri, disepakatkan dengan isterinya, dengan muridnya, teman-teman dan gurunya saja, tentu saja akan dibenarkan. Hanya saja, bermusyawarah dengan golongan lain diluar golongan mereka itu justru lebih baik, untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah.
Sayangnya, golongan Islampun ada yang beranggapan demikian. Di kalangan umat Islam, mereka yang mengaku sebagai ahli Sunnah wal Jama’ah, menetapkan salah terhadap mereka yang didakwa termasuk golongan Mu’tazilah, misalnya, dan seterusnya. Pendek kata, tiap golongan dari yang besar sampai yang kecil, bahkan sampai peroranganpun menganggap bahwa dirinya benar dan menyalahkan golongan atau pribadi lainnya.
“Semua golongan bersukaria dengan barang yang ada pada golongannya.” (QS Ar-Ruum 23).
Mereka merasa sudah benar, tidak memerlukan lagi golongan lainnya, tidak memerlukan lagi bermusyawarah dengan golongan lain, dan mengabaikan hujjah atau alasan golongan lain. Sudah teguh pendiriannya, sengaja tidak mau membanding-banding dan menimbang. Tetapi kenyataannya satu sama lain saling bertengkar. Padahal yang mereka perselisihkan, bila dilakukan musyawarah tentu akan terdapat mana yang benar dan mana yang salah. Hanya satu yang benar diantara yang banyak itu, sesuai dengan firman Allah QS Yunus 23 : “Maka tidak ada sesudahnya yang benar, kecuali yang salah.”
Terakhir, KHA Dahlan membacakan QS Al A’raf 90 :
“Tidaklah khawatir akan siksa Allah, kecuali mereka golongan yang rugi.”
Demikianlah Pelajaran kedua KHA Dahlan. Menjadi pengingat bagi kita, bahwa hidup yang hanya sekali ini, jangan sampai kita dan juga golongan kita menjadi golongan yang rugi karena kita merasa benar sendiri. Tidak menganggap perlu golongan lain, dan bahkan melupakan bermusyawarah dengan golongan lain. Padahal dengan bermusyawarah dengan golongan lain, Insya Allah segala permasalahan keumatan bisa diselesaikan dengan lebih baik. Selain itu, juga bisa memunculkan semangat saling nasehat menasehati, semangat kebersamaan dan menumbuhkan rasa persatuan sebagai sesama umat Islam. Itulah yang menjadi harapan kita, tumbuhnya persatuan Islam.
1 PLP Lab. Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD