7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan
Bagian pertama
Nurwidayati1
Salah seorang murid KHA Dahlan, yaitu KRH. Hadjid, mengungkapkan bahwa, selama 6 tahun beliau berkhitmad, berguru dan berteman dengan KHA Dahlan, beliau tidak mendapat ilmu apapun yang tercatat dalam hati, kecuali hanya 7 perkara. Namun begitu, beliau yakin bahwa kesulitan yang timbul dalam masyarakat umum dan dunia internasional akan dapat diatasi dengan 7 perkara tersebut. Itulah salah satu alas an yang mendasari beliau untuk menulis sebuah buku berjudul “Pelajaran KHA Dahlan.” 2
Sebagai warga dan kader Muhammadiyah, sudah seharusnyalah kita menjiwai dan memahami nilai-nilai ajaran beliau yang luhur. Oleh karenanya, Simak uraian singkat dari 7 Falsafah Ajaran KHA Dahlan berikut, yang diambil dari buku Pelajaran KHA Dahlan, karya KRH Hadjid.
- Pelajaran pertama
Fatwa KHA Dahlan “Kita, manusia ini hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh : sesudah mati, akan mendapat kebahagiankah atau kesengsaraankah?” Seringkali juga beliau mengutarakan pendapat seorang ulama “Manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para Ulama, yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama-ulama itu dalam kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramalpun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang Ikhlas dan bersih.”
Masya Allah, luar biasa apa yang menjadi falsafah pertama dari KHA Dahlan ini. Mak jleb rasanya kalau kita bilang sekarang. Dalem banget. Sekelas ulama, yaitu seorang yang berilmu dan beramal sholih tentunya, tetap akan diliputi kekhawatiran akan statusnya sesudah mati. Dan hanya ulama yg Ikhlas dan bersih yang tidak akan diliputi kekhawatiran. Bagaimana dengan kita?
Itulah mengapa, di dekat meja tulis KHA Dahlan terdapat sebuah papan tulis yang ditempeli peringatan khusus untuk beliau, yang selalu beliau lihat siang dan malam. Peringatan dalam bahasa Arab itu berbunyi demikian :
Hai Dahlan ! Sungguh bahaya yang menyusahkan itu terlalu besar, demikian juga perkara-perkara yang mengejutkan di depanmu, dan pasti engkau akan menemui kenyataan demikian itu. Mungkin engkau selamat, tetapi juga mungkin tewas menemui bahaya.”
Hai Dahlan, coba bayangkanlah seolah-olah badanmu sendiri hanya berhadapan dengan Allah saja, dan di depanmu ada bahaya maut, peradilan, hisab, atau pemeriksaan, surga dan neraka (Hitungan yang akhir inilah yang menentukan nasibmu). Dan fikirkanlah, renungkanlah apa-apa yang mendekati engkau dari pada sesuatu yang ada di mukamu (bahaya) dan tinggalkanlah selainnya itu.
Mereka sangat tertarik kepada dunia karena mendapatkan ijazah tanpa sekolah. Tetapi mereka yang bersekolah karena senang kepada akhirat selalu tidak naik kelas, padahal mereka sungguh-sungguh belajarnya. Ini menggambarkan orang yang celaka, sengsara di dunia dan akhirat, karena tidak mau mengekang hawa nafsunya.
“Mengertilah kau, akan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya?” (QS Al-Jatsiyah 22).
Sering kali, setiap teman-teman KHA Dahlan sedang berkumpul, beliau memberikan peringatan demikian :
Lengah, kalau sampai terlanjur terus menerus lengah, tentu akan sengsara dunia dan akhirat. Maka dari itu jangan sampai lengah, kita harus hati-hati. Sedangkan orang yang mencari kemuliaan di dunia saja, kalau hanya seenaknya, tidak bersunguh-sungguh, tidak akan berhasil, apalagi mencari keselamatan dan kemuliaan di akhirat. Kalau hanya seenaknya, sungguh tidak akan berhasil.
Pada suatu hari KHA Dahlan memberi fatwa demikian :
“Bermacam-macam corak ragamnya mereka mengajukan pertanyaan soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian : Harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?”
“Orang yang sedang tersangkut perkara criminal, dia takut akan dijatuhi hukuman penjara. Menunggu-nunggu putusan Hakim Peradilan Negeri, karena takut hukuman penjara. Siang dan malam selalu termenung, sampai makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Selalu gelisah, dan kesana kemari mencari advokat atau pokrol.”
Dalam sekali bukan, apa yang beliau tulis di papan dekat meja tulis beliau? Menjadi pengingat bahwa tujuan segala sesuatu itu adalah pada kehidupan sesudah mati. Bukan sekedar menuruti hawa nafsu dan mengejar kehidupan dunia saja. Namun lebih kepada tujuan surga dan neraka, karena itu yang menjadi penentu nasib kita kelak. Dan begitulah seorang mukmin yang takut akan bahaya maut, takut akan diusut perbuatannya, takut akan diputus perkaranya, takut akan adanya pembalasan berupa siksa atau hukuman. Pasti akan bingung mencari usaha bagaimana mencari keselamatan, tidak cukup hanya mengandalkan dirinya saja. Ingatlah, “hanya sekali hidup di dunia untuk bertaruh.’
(bersambung)
1 PLP Lab Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD
2 Hadjid, KRH, 2006, Pelajaran KHA Dahlan, LPI PPM, Yogyakarta.